web analytics

Read: Article by Radio Kampus ITB

Yuk, Save Bekantan

By radio kampus ITB  Sabtu, 12 April 2014 – 18:39 WIB

Indonesia memang memiliki kekayaan yang tidak terhitung nilainya, termasuk keanekaragaman flora dan fauna. Namun, sayangnya banyak dari flora dan fauna endemik Indonesia yang terancam punah dan Ghea dan Gabby, saudara kembar yang saat ini berada di bangku kelas XI Global Jaya International School, adalah dua siswi yang peduli dengan hal tersebut. Mereka pun membuat proyek untuk meneliti keberadaan monyet bekantan. Langkah mereka mendapat dukungan dari Yayasan Adaro Bangun Negeri, dan masuk dalam salah satu program CSR PT Adaro Energy, Tbk.

Bekantan atau bahasa latinnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Bekantan juga sering disebut monyet Belanda karena hidungnya yang besar. Namun uniknya adalah, hidung yang besar tersebut hanya dimiliki oleh bekantan jantan. Semakin besar hidungnya, semakin menarik bagi bekantan betina.

Selain hidungnya yang besar, Bekantan juga memiliki perut yang besar karena makan daun-daunan yang menghasilkan banyak gas ketika proses penceraan. Seperti jenis monyet lainnya, Bekantan gemar meloncat dari satu pohon ke pohon lain. Keunikan lainnya, Bekantan sangat jago berenang, bahkan mereka berenang dari satu pulau ke pulau lain. Hebat ya?

Namun saying seribu saying, menurut IUCN, sebuah organisasi internasional yang fokus pada konservasi sumber daya alam, status bekantan adalah Species Terancam Punah. Menurut data, jumlah bekantan dalam 5 sampai 10 tahun terakhir turun drastis dari 20 ribu ekor menjadi tujuh ribu ekor. Studi terbaru menunjukkan bahwa pada 16 Mei 2013, hanya 5.907 ekor bekantan yang tersisa. Dalam 14 tahun, bekatan diproyeksikan akan punah.

Perburuan, penebangan hutan, kebakaran hutan dan pembukaan lahan baru membuat keberadaan bekantan menjadi terancam. Sedihnya lagi adalah, bekantan merupakan maskot Kalimantan Selatan, namun masyarakat lokal kurang menjaga keberadaan bekantan itu sendiri.

Melihat fakta tersebut, Gabby dan Ghea membuat kampanya dengan tema Time to Move, Time to Act. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap bekantan serta menjalin kemitraan dengan organisasi atau individu yang peduli terhadap bekantan agar semua orang dapat menjadi bagian integral dari solusi penyelamatan bekantan.

Menurut Ghea dan Gabby, saat ini mereka fokus untuk menumbuhkan kesadaran pelajar dan dewasa muda di Jakarta. Mereka menulis di media sosial dan website untuk mengajak masyarakat melakukan aksi nyata penyelamatan bekantan. Dalam waktu dekat ini, juga aka nada activation program di salah satu mall di Jakarta. Di sana akan ada pameran foto dan merchandise bekantan. Selanjutnya, dana yang terkumpul melalui acara ini akan didonasikan untuk mendukung sebuah kawasan konservasi bekantan.

Untuk berbuat baik, memang tidak mudah. Mereka pun menghadapi kendala yang kompleks, oleh karena itu merka berharap semakin banyak yang dapat bergabung dengan program penyelamatan bekantan, meskipun kecil. Teman-teman mahasiswa dapat mengawalinya dengan hal paling sederhana yaitu, mengenal dan bangga bahwa Bekantan adalah satwa asli Pulau Kalimantan. Save Bekantan together with us, we need you.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan klik www.thebekantantwins.com

…..(read from original)…..
Once again, thank you so much to our friends at Kampus Radio ITB for publishing an article about our project!
Thank you for the support and hope to see you soon!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + two =

Categories